Ashanty Ungkap Pengalaman Pelecehan saat SD, Kisahnya Disimpan Bertahun-tahun

Ashanty Ungkap Pengalaman Pelecehan saat SD, Kisahnya Disimpan Bertahun-tahun

Rumpi Tetangga – Ashanty mengungkap pengalaman pahit yang selama bertahun-tahun tidak diketahui keluarganya. Dalam podcast Talk About-Oki Setiana Dewi, ia menceritakan dugaan pelecehan yang dialaminya saat masih duduk di sekolah dasar.

Ketika itu, ibunya telah menikah lagi. Ashanty yang masih takut tidur sendiri terbiasa tidur bersama ibu dan ayah sambungnya. Ia berada di tengah keduanya. Menurut pengakuannya, pada suatu malam ayah sambungnya mulai menyentuh tubuhnya.

Ashanty alami pelecehan tersebut ketika usianya masih sangat muda. Situasi itu membuatnya takut dan bingung. Namun, ia belum memiliki keberanian untuk menceritakan apa yang terjadi kepada orang lain. Pengalaman tersebut akhirnya tersimpan dalam ingatannya selama bertahun-tahun.

Ashanty Mengaku Berpura-pura Tidur saat Kejadian

Saat kejadian berlangsung, Ashanty mengatakan dirinya memilih berpura-pura tidur. Sebagai seorang anak, ia tidak mengetahui cara terbaik untuk menghadapi situasi yang membuatnya merasa tidak aman tersebut.

Kemudian, Ashanty mencoba menggerakkan tubuhnya. Ia berharap ayah sambungnya mengira dirinya mulai terbangun. Menurut ceritanya, tindakan sederhana tersebut berhasil membuat situasi berhenti.

Meski kejadian tidak berlanjut saat itu, rasa takut telanjur tertanam dalam pikirannya. Ashanty menjadi khawatir pengalaman serupa akan terjadi kembali ketika dirinya sedang tertidur.

Pengalaman tersebut menunjukkan bagaimana seorang anak dapat memberikan respons berbeda ketika menghadapi situasi yang menakutkan. Dalam kasus Ashanty, ia memilih diam dan mencoba melindungi dirinya dengan kemampuan yang dimilikinya ketika itu.

Posisi Tidur Diubah untuk Membuat Dirinya Merasa Aman

Setelah kejadian tersebut, Ashanty mulai mencari cara agar dirinya merasa lebih aman. Salah satunya dengan mengubah posisi tidur bersama ibunya.

Sebelumnya, Ashanty tidur di tengah antara ibu dan ayah sambungnya. Namun, setelah mengalami kejadian yang membuatnya takut, ia meminta pindah posisi. Ia kemudian memilih tidur di sisi ibunya.

Baca Juga : Putri Anne Bicara soal Keyakinan, Dea Annisa Mantap Berhijab Setelah Menikah

Perubahan kecil tersebut ternyata memiliki makna besar bagi Ashanty. Pada usia yang masih muda, ia berusaha menciptakan jarak dari situasi yang membuatnya tidak nyaman.

Namun, ia tetap tidak menceritakan alasan sebenarnya kepada sang ibu. Karena itu, pengalaman tersebut terus menjadi rahasia pribadi. Dari sisi manusiawi, cerita ini memperlihatkan bahwa anak belum tentu mampu menjelaskan ketakutan yang sedang dialaminya secara terbuka.

Pengalaman Itu Disebut Memengaruhi Pola Tidurnya

Ashanty mengatakan pengalaman masa kecil tersebut meninggalkan dampak panjang dalam kehidupannya. Salah satu hal yang ia rasakan adalah kesulitan untuk tidur dengan benar-benar tenang.

Menurut pengakuannya, ia takut tertidur terlalu pulas. Kekhawatiran akan mengalami kejadian serupa membuat dirinya terbiasa berada dalam kondisi waspada ketika beristirahat.

Ashanty kemudian menghubungkan pengalaman tersebut dengan insomnia yang dialaminya dalam jangka panjang. Meski demikian, pengalaman dan respons setiap orang terhadap kejadian traumatis tentu dapat berbeda.

Cerita Ashanty memperlihatkan bahwa pengalaman pada masa kecil dapat terus diingat hingga seseorang beranjak dewasa. Oleh karena itu, lingkungan yang membuat anak merasa aman untuk berbicara menjadi sangat penting, terutama ketika mereka menunjukkan rasa takut atau perubahan perilaku tertentu.

Sang Ibu Tidak Pernah Mengetahui Kisah Ashanty

Salah satu bagian paling emosional dari cerita tersebut adalah keputusan Ashanty untuk tidak memberi tahu ibunya. Ia menyimpan pengalaman itu bahkan hingga sang ibu meninggal dunia pada 6 November 2016.

Ashanty mengatakan kondisi ibunya ketika itu menjadi salah satu pertimbangannya untuk tetap diam. Ia akhirnya menjalani kehidupan tanpa pernah membicarakan pengalaman tersebut secara langsung kepada sang ibu.

“Mama meninggal pun tak tahu cerita ini,” ungkap Ashanty ketika membicarakan kisah masa kecilnya.

Tidak hanya ibunya, kakak-kakak Ashanty juga tidak mengetahui pengalaman tersebut selama bertahun-tahun. Mereka disebut baru mengetahui ceritanya belakangan ini. Tak mengherankan apabila pengakuan tersebut kemudian membuat anggota keluarganya terkejut.

Keluarga Baru Mengetahui Cerita Ashanty Belakangan Ini

Cerita Ashanty alami pelecehan ternyata menjadi informasi baru bagi anggota keluarganya. Menurut Ashanty, kakak-kakaknya tidak mengetahui kejadian tersebut ketika mereka masih hidup bersama dalam lingkungan keluarga yang sama.

Kondisi itu menunjukkan bahwa seseorang dapat menyimpan pengalaman sangat pribadi meskipun dikelilingi orang-orang terdekat. Rasa takut dan kebingungan dapat membuat seseorang belum siap membicarakan pengalaman sensitif.

Selain itu, seorang anak mungkin belum mempunyai kata-kata yang cukup untuk menjelaskan apa yang dialaminya. Karena alasan tersebut, komunikasi antara orang tua dan anak memiliki peran besar.

Orang dewasa perlu memberikan ruang aman agar anak merasa nyaman berbicara. Namun, setiap perubahan perilaku juga tidak boleh langsung dianggap sebagai tanda tertentu. Mendengarkan dengan tenang menjadi langkah awal yang penting ketika anak mulai menceritakan sesuatu.

Ashanty Memaknai Keselamatannya Melalui Keyakinan

Dalam podcast tersebut, Ashanty juga mengungkapkan bahwa ayah sambungnya meninggal ketika dirinya mulai memasuki usia baligh. Ia kemudian memaknai perjalanan hidup itu melalui keyakinan pribadinya.

Menurut Ashanty, dirinya merasa Tuhan telah memberikan perlindungan sehingga tindakan yang ia khawatirkan tidak berkembang lebih jauh. Ia menyampaikan bagian cerita tersebut dengan emosional.

Bagi Ashanty, keyakinan spiritual menjadi salah satu cara untuk memahami pengalaman masa lalunya. Namun, setiap orang tentu mempunyai cara berbeda dalam menghadapi pengalaman traumatis.

Ada yang menemukan kekuatan melalui keluarga, lingkungan sosial, pendampingan profesional, atau keyakinan pribadi. Karena itu, pengalaman Ashanty sebaiknya dipahami berdasarkan penuturannya sendiri tanpa menggeneralisasi pengalaman penyintas lainnya.

Cerita Ashanty Menyoroti Pentingnya Keamanan Anak

Di luar kehidupan Ashanty sebagai figur publik, ceritanya membawa perhatian pada isu yang jauh lebih luas. Keamanan anak merupakan tanggung jawab penting bagi keluarga dan lingkungan di sekitarnya.

Anak perlu mengetahui bahwa tubuh mereka memiliki batas pribadi. Selain itu, mereka perlu merasa aman untuk mengatakan tidak ketika menghadapi sentuhan atau perilaku yang membuat mereka tidak nyaman.

Di sisi lain, orang tua dapat membangun komunikasi mengenai batas tubuh menggunakan bahasa yang sesuai usia. Cara tersebut membantu anak memahami kapan mereka perlu meminta pertolongan.

Ketika seorang anak mulai bercerita, mendengarkan tanpa menyalahkan juga sangat penting. Respons yang tenang dapat membantu mereka merasa lebih aman. Jika diperlukan, keluarga dapat mencari bantuan dari tenaga profesional yang memiliki kompetensi sesuai situasi.

Pengakuan Ashanty Menjadi Bagian dari Perjalanan Hidupnya

Setelah bertahun-tahun menyimpan pengalaman tersebut, Ashanty akhirnya memilih untuk berbicara secara terbuka. Keputusan itu sekaligus membuat keluarganya mengetahui sisi masa kecil yang sebelumnya tidak pernah mereka pahami.

Pengakuan Ashanty alami pelecehan juga menunjukkan bahwa seseorang tidak selalu mampu menceritakan pengalaman sensitif segera setelah kejadian. Sebagian orang membutuhkan waktu panjang sampai merasa cukup aman untuk berbicara.

Karena itu, pengalaman seperti ini sebaiknya tidak diperlakukan sebagai bahan sensasi. Fokus utama perlu diberikan pada pengalaman orang yang bercerita serta pentingnya perlindungan terhadap anak.

Bagi keluarga, kisah Ashanty dapat menjadi pengingat untuk terus membangun komunikasi yang terbuka. Anak perlu mengetahui bahwa mereka mempunyai orang yang bersedia mendengarkan ketika menghadapi sesuatu yang membuat takut, bingung, atau tidak nyaman.