Nikita Willy Diduga Sebagai Artis NW dalam ‘Broken Strings’, Aurelie Moeremans Minta Warganet Tidak Membuli
Rumpi Tetangga – Nikita Willy mendapatkan hujatan warganet setelah buku Broken Strings yang ditulis oleh Aurelie Moeremans viral di media sosial. Buku ini menceritakan kisah masa lalu traumatik Aurelie, yang melibatkan beberapa karakter yang diduga terinspirasi dari orang-orang di kehidupan nyata. Salah satunya adalah sosok yang diduga sebagai artis NW, yang ramai diperbincangkan sebagai Nikita Willy.
Aurelie Moeremans Minta Warganet Tidak Membuli
Melihat banyaknya komentar negatif, Aurelie akhirnya angkat bicara pada 16 Januari 2026 melalui akun Threads pribadinya. Ia meminta warganet untuk berhenti membuli atau menyerang karakter dalam bukunya, terutama yang masih bersifat spekulasi. “Tolong jangan membuli atau menyerang karakter-karakter yang ada dalam buku, apalagi kalau masih sebatas tebak-tebakan,” ujar Aurelie.
Menjelaskan Tujuan Penulisan Buku Broken Strings
Aurelie merasa tidak nyaman dengan asumsi yang berkembang di media sosial. Ia menegaskan bahwa tujuan dari bukunya adalah untuk menceritakan pengalamannya secara jujur, bukan untuk menghakimi atau menyerang pihak mana pun. “Fokus dari cerita ini bukan untuk menghakimi, apalagi mengeroyok. Fokusnya adalah pengalaman, luka, dan proses penyembuhan yang aku bagikan dengan sangat jujur,” tambahnya.
Baca Juga : Nikita Willy Diduga Artis NW dalam Broken Strings, Aurelie: Tolong Jangan Bully
Tanggapan Terhadap Roby Tremonti dan Spekulasi Liar
Aurelie juga menanggapi munculnya Roby Tremonti yang meminta penegasan mengenai karakter ‘Bobby’ dalam buku tersebut. “Kalau ada orang yang mengaku sendiri itu urusan masing-masing. Kalian bebas berpendapat soal itu. Tapi kalau hanya menebak-nebak lalu menyerang, please jangan,” kata Aurelie. Ia mengingatkan agar publik tidak mudah menyebarkan asumsi tanpa dasar.
Harapan Aurelie untuk Korban Lain dan Pembaca
Aurelie menegaskan bahwa ia menulis Broken Strings bukan untuk menciptakan sasaran baru untuk dibuli. Sebaliknya, ia berharap buku ini bisa membuka mata, meningkatkan kesadaran, dan memberikan dukungan bagi korban lain yang mengalami hal serupa. “Let’s keep this space kind, aman, dan penuh empati,” ujarnya.
Kesimpulan: Empati dan Kesadaran Menjadi Fokus Utama
Aurelie Moeremans berharap agar publik lebih bijak dalam menyebarkan opini. Ia ingin bukunya menjadi sarana untuk menyembuhkan dan memberikan dukungan bagi mereka yang mengalami trauma serupa. Dengan harapan agar ruang ini lebih penuh empati, ia ingin agar semua pihak menghormati proses penyembuhan dan pengalaman yang dibagikan.


